Rumah Rapuh Zulkipli di Talang Padang Akhirnya Temui Titik Terang Bantuan

TANGGAMUS, Radarkriminaltv.com – Gurat lelah tak mampu disembunyikan dari wajah Zulkipli. Setiap kali langit Kabupaten Tanggamus mulai mendung, kecemasan selalu menyelimuti pikirannya. Rabu, (24/6/2026).

 

Di Pekon Negeri Agung, Kecamatan Talang Padang, sebuah bangunan yang lebih mirip gubuk tua berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Rumah itulah tempat Zulkipli dan istrinya bernaung—sebuah tempat berlindung yang kini justru mengancam keselamatan mereka setiap detik.

 

Kondisi rumah tersebut sudah jauh dari standar kelayakan huni. Berdasarkan dokumentasi dan pantauan di lokasi, atap gentingnya sudah banyak yang bergeser, menyisakan celah-celah menganga yang langsung menghadap ke langit.

 

Ketika hujan deras melanda, air dengan mudah menerobos masuk. Sebagai penahan darurat, selembar terpal plastik dipasang seadanya, sekadar agar kasur mereka tidak basah kuyup.

 

Tak hanya atap yang bermasalah, tiang-tiang penyangga dan rangka kayu rumah tersebut sudah tampak menua, lapuk dimakan usia, dan digerogoti rayap. Dinding-dindingnya miring, memperlihatkan struktur keseluruhan bangunan yang kian ringkih. Berada di dalam rumah itu memicu rasa waswas; bangunan tersebut tampak seolah bisa roboh kapan saja jika dihantam angin kencang.

 

Bukannya tak ingin memperbaiki tempat tinggal, namun realitas hidup memaksa Zulkipli untuk menerima keadaan. Sebagai seorang buruh kasar, penghasilannya tidak menentu. Uang yang dibawa pulang setiap hari seringkali hanya cukup untuk mengisi piring makan sehari-hari bersama sang istri. Memikirkan biaya membeli sebatang kayu atau beberapa lembar genting baru adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau oleh dompetnya.

 

Di tengah himpitan ekonomi yang kian menjerat, pasangan suami istri ini hanya bisa melangitkan doa dan berharap pada kepekaan hati pemerintah. Harapan mereka sederhana namun mendasar: sebuah rumah yang kokoh, di mana mereka bisa tidur nyenyak tanpa takut tertimpa atap.

 

Selain impian akan hunian yang layak, pasutri ini juga menyelipkan asa agar mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah serta pihak PT PLN (Persero). Mereka sangat berharap bisa dimasukkan ke dalam daftar penerima program subsidi listrik. Bagi keluarga kecil ini, potongan biaya listrik akan sangat berarti untuk menyambung hidup dan meringankan beban finansial mereka yang sudah di ambang batas.

 

Secercah Harapan dari Pihak Pekon

Setelah sekian lama bertahan dalam sunyi dan ketidakpastian, secercah cahaya mulai terbit bagi keluarga Zulkipli. Respons positif datang dari Kepala Pekon Negeri Agung, Arip Granada. Saat dikonfirmasi mengenai kondisi warganya melalui pesan singkat WhatsApp, Arip membawa kabar yang sangat menggembirakan dan menjadi jawaban atas doa-doa Zulkipli selama ini.

 

“Kebetulan dua hari yang lalu, pihak pemerintah kabupaten telah menghubungi saya terkait adanya alokasi dan kesempatan untuk pengajuan program bedah rumah. Melihat kondisi yang ada, saya akan segera memprioritaskan dan mendaftarkan Pak Zulkipli ke dalam program tersebut agar mendapatkan hunian yang layak,” ungkap Arip dengan nada optimis.

 

Janji janji birokrasi ini tentu bukan sekadar formalitas bagi Zulkipli, melainkan sebuah harapan nyata yang amat dinantikan. Langkah cepat dan responsif dari aparatur pekon ini diharapkan dapat segera terealisasi tanpa hambatan administrasi yang berbelit-belit.

 

Kini, setelah bertahun-tahun hidup dalam kecemasan di bawah naungan atap yang rapuh, titik terang itu akhirnya mulai kelihatan. Publik pun berharap janji manis dari pihak kabupaten dan pekon ini dapat segera mewujud menjadi dinding-dinding batako yang kokoh, memberikan rasa aman yang sudah lama hilang dari hidup Zulkipli dan istrinya.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *